Gagal Total Italia di Kualifikasi Piala Dunia
Sepak bola Italia diambang kehancuran dengan tiga kali beruntun tidak lolos ke Piala Dunia, pada jeda internasional pekan lalu Italia menggelar laga hidup mati melawan Bosnia di babak playoffs. Laga tersebut berhasil dimenangkan Bosnia dengan drama adu penalti.
Italia menghadapi perjalanan panjang di kualifikasi Piala Dunia zona Eropa pada musim ini. Mereka tergabung di grup I bersama Norwegia, Israel, Estonia dan Moldova. Italia harus tergabung di grup yang diisi lima tim imbas hasil mereka di Nations League.
Sialnya mereka tergabung dengan Norwegia yang tengah dalam generasi emasnya. Hasilnya Italia hanya mampu finish di posisi kedua klasemen dengan berhasil meraih enam kemenangan dan dua kekalahan. Norwegia lah yang memberikan dua kekalahan terhadap Italia tersebut.
Dengan finish di posisi kedua grup I Kualifikasi Piala Dunia zona Eropa, Italia harus menempuh babak playoffs untuk berlaga di Piala Dunia. Di babak pertama Playoffs, mereka berhasil menang dengan skor dua gol tanpa balas melawan Irlandia Utara.
Lalu di pertandingan penentuan, mereka menghadapi Bosnia untuk memperebutkan satu tempat di Piala Dunia. Dalam laga tersebut, Italia berhasil mencetak gol lebih dulu melalui gol Moise Kean pada menit ke-15’. Namun Italia harus kehilangan satu pemain pada menit ke-41’ setelah Bastoni mendapatkan kartu merah.
Pada babak kedua, Bosnia terus mencecar pertahanan Italia yang bermain dengan 10 pemain. Hasilnya, Bosnia berhasil menyamakan kedudukan melalui gol Haris Tabakovic pada menit ke-79’. Pertandingan pun usai dengan skor 1-1 di waktu normal dan berlanjut ke masa extra time.
Di dua kali 15 menit, kedua tim bermain hati-hati yang membuat tidak ada satu pun gol yang tercipta. Pertandingan pun kembali melaju ke babak adu penalti. Dalam babak adu penalti tersebut, Pio Esposito dan Cristante gagal mencetak gol, sementara semua penendang Bosnia berhasil mencetak gol.
Italia pun akhirnya mengalami kekalahan 4-1 di babak adu penalti, kekalahan tersebut menjadi pukulan telak yang membuat mereka tidak lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Pasca pertandingan, timnas Italia pun menjadi perbincangan panas pecinta sepak bola seantero dunia.
Sepak Bola Italia Diambang Kehancuran
Setelah Italia resmi tidak lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya, muncul banyak kritikan pedas terhadap sepak bola Italia. Tak hanya dari pecinta sepak bola, beberapa legenda sepak bola pun turut angkat bicara terkait tim yang juara empat kali Piala Dunia tersebut.
Yang paling pedas keluar dari Jurgen Klinsmann, legenda Jerman yang pernah bermain di Serie A bersama Inter dan Sampdoria tersebut menyoroti sedikitnya para pemain muda yang diberikan kesempatan bermain di tim utama Serie A yang membuat timnas Italia kehilangan pool pemain.
“Italia menanggung akibat dari kurangnya sosok pemimpin, kurangnya pemain yang mampu menghadapi lawan dalam situasi satu lawan satu, dan kurangnya kepercayaan pada pemain muda,” Ujar Jurgen Klinsmann dikutip dari Corriere dello Sport.
Klinsmann bahkan mengatakan pemain-pemain seperti Lamine Yamal dan Jamal Musiala yang tengah menjadi sensasi di sepak bola Eropa pada saat ini mungkin akan bermain di Serie B apabila bermain di sepak bola Italia karena kurangnya kepercayaan tim-tim di Serie A.
“Di Italia, Lamine Yamal dan Jamal Musiala mungkin akan dikirim ke Serie B untuk mendapatkan pengalaman. Banyak pelatih masih bekerja dengan tujuan untuk tidak kalah daripada menang dengan segala cara dan inilah hasilnya,” lanjut mantan pemain Tottenham Hotspur tersebut.

Di tengah kritikan, sepak bola Italia diambang kehancuran dan kini tengah dalam gejolak panas. Tak lama dari kekalahan atas Bosnia, ketua FIGC Gabrielle Gravina mengundurkan diri disusul dengan Buffon yang pada saat itu menjabat sebagai ketua delegasi tim nasional.
Lebih dari itu, sang pelatih Gattuso juga resmi mengundurkan diri dari timnas Italia. Kehilangan-kehilangan sosok di posisi strategis pun juga menjadi bola panas dengan siapa yang selanjutnya akan mengisi posisi tersebut. Maldini disebut sosok yang pantas untuk mengisi posisi ketua FIGC.
Maldini diusulkan oleh beberapa sosok terutama sektor pemerintahan Italia yang disebut mempunyai visi untuk memajukan sepak bola Italia dengan pembinaan usia muda. Lalu di posisi pelatih, nama-nama seperti Conte dan Allegri juga mulai muncul ke permukaan.
Conte sebelumnya pernah melatih timnas Italia dengan memunculkan nama-nama baru seperti Eder dan Graziano Pelle meskipun tetap tanpa raihan trofi major. Lalu untuk Allegri, menjadi pelatih timnas akan menjadi perjalanan karir baru setelah dirinya sukses bersama Juventus.
Allegri yang kini tengah menjadi pelatih AC Milan tersebut akhirnya buka suara terkait kans untuk dirinya menjadi pelatih timnas Italia di masa mendatang. Ia mengatakan bahwa saat ini tengah fokus bersama AC Milan di Serie A untuk lolos ke Champions League.
“Saya belum memikirkannya. Saya berada di Milan, saya bahagia di sini dan berharap bisa berada di sini untuk waktu yang lama. Kami memulai dengan tujuan lolos ke Liga Champions, yang merupakan turnamen menarik, yang sudah lama tidak saya ikuti. Saya ingin bermain di sana bersama Milan,” ujar Allegri dikutip Football Italia.
Lalu Allegri mengatakan bahwa masalah sepak bola Italia bukan hanya siapa yang menjadi pelatih timnas, ia menyoroti masalah sistem yang bisa dibangun untuk sepak bola Italia. Mantan pelatih Juventus juga mengatakan bahwa tak perlu untuk membuang atau menyingkirkan semuanya.
“Masalah tim nasional bukan hanya tentang pelatih, tetapi seluruh sistem yang perlu menemukan solusi. Tidak semuanya harus dibuang begitu saja, karena bahkan ketika keadaan berjalan buruk, selalu ada sesuatu yang dapat dibangun,” tutup Allegri.
●●●
Kunjungi halaman blog kami untuk membaca berita SEPAK BOLA dan informasi pasaran taruhan
Selalu menjadi yang terdepan dalam mendapatkan informasi seputar olahraga dan bursa taruhan



